Jumat, 09 Maret 2012

Peri Kecilku Tersayang...

Saya mempunyai seorang putri yang bernama Aisyah, dia gadis yang cantik dan baik...
Hal yang di sukainya adalah menulis, dia menulis dalam sehari minimal 1 tulisan atau 1 cerpen...
Meski begitu, saya sangat jarang membaca tulisannya, saya pikir itu hanya cerpen-cerpen khayalannya, atau tulisan-tulisan yang tidak terlalu penting untuk saya baca, hingga suatu hari saya menemukan sebuah tulisan yang berjudul "Untuk Sebuah Cita", tulisan yang membuat saya amat tergugah hingga saat ini...
Tulisan itu dia buat saat masih berumur 9 tahun lebih, hampir 10 tahun mungkin...
Tulisan tersebut ditulis dengan font Comic Sans MS dan ukuran 20... memang sangat lucu ketika saya membukanya, puluhan huruf berukuran besar itu memenuhi halaman dokumen itu...
Berikut cerita yang di buatnya :



Namaku Aisyah, aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Rumah kami berada di pinggiran metropolitan, walaupun hidup kami sederhana namun tidak menyurutkan semangatku untuk belajar. Buktinya aku bisa menduduki rangking satu terus, hingga kini aku sudah menginjak kelas 4 SD. Hanya saja walaupun aku selalu rangking kelas aku tidak pernah diberikan hadiah oleh kedua orang tuaku, mungkin mereka tidak mampu untuk memberikan hadiah itu. Ayahku bekerja sebagai karyawan rendahan di sebuah pesantren, gajinya hanya cukup untuk makan kami sekeluarga, sedangkan Bundaku hanya berada di rumah, dulu Bunda pernah mengajar di TK dekat rumah, tapi karena suatu sebab beliau tidak mengajar lagi, mungkin karena banyak guru-guru baru yang lebih tinggi pendidikannya. Dalam keluargaku aku adalah anak tunggal, aku tidak punya adik dan juga tidak punya kakak, hal inilah yang membuat hubunganku dengan Ayah begitu dekat, walaupun beliau hanya karyawan rendahan namun dia tidak pernah minder, apalagi menyerah dengan nasib. “Kita harus merubah nasib kita sendiri” begitu katanya pada suatu hari. Ternyata ucapan Ayah bukan isapan jempol, beliau sangat bersungguh-sungguh untuk membuktikan ucapannya, hal ini pula yang membuatku merasa untuk terus bersemangat belajar, walaupun aku tidak pernah diberikan hadiah jika juara kelas, berbeda dengan teman-teman yang mempunyai keluarga yang kaya, jika mereka juara pasti dibelikan macam-macam, hal ini aku ketahui dari majalah bekas yang sering dibeli oleh Ayah. Yah…. Benar Ayah memang sangat senang membaca, sudah banyak sekali buku-buku yang dibelinya, walaupun kebanyakan adalah buku bekas. Aku sendiri juga sering sekali dibelikan majalah dan buku-buku bacaan bekas, katanya sih kalau beli yang baru mahal. Mungkin ini juga yang membuatku mulai senang membaca. Kalau aku ingin membaca buku-buku yang baru biasanya Ayah mengajakku ke toko buku, di sana aku bisa membaca buku sepuasnya tanpa perlu membeli, kalaupun terpaksa membeli paling-paling membeli majalah Aku Anak Saleh atau buku-buku yang harganya murah.




Oh ya… Ayahku bisa berubah dari seorang yang berpendidikan rendah menjadi orang yang suka membaca dan banyak ilmunya, bahkan karena kesungguhannya, ia bisa berubah menjadi guru besar atau dosen, Ayahku juga mempunyai gelar s1 atau "Sarjana Hukum Islam", bukan tanpa sebab, ternyata ucapan beliau yang dulu telah dilaksanakan, pantas saja setiap akhir pekan Ayah tidak pernah mengajakku jalan-jalan, rupanya beliau mengajar di sebuah universitas, ternyata tidak berhenti disitu, beliau juga mengajar bahasa arab, inggris, computer, dll dan ikut kuliah juga di Universitas Terbuka (UT). Pantas saja Ayah jarang sekali membeli baju atau membeli barang-barang rumah tangga. Dan Bunda sendiri juga sering mengeluh dengan uang belanjanya. “Bunda, sabar saja ini khan buat kebaikan kita nanti” begitu kata-kata Ayah yang pernah aku dengar.

Kini aku paham kenapa setiap juara kelas aku jarang diberikan hadiah, rupanya uang Ayah digunakan untuk biaya kuliahnya. Dan saat ini kami semua bersyukur, setelah Ayah menyelesaikan kuliahnya kini Ayah diangkat sebagai ketua komite dipesantren tempatku sekolah. Semoga saja tahun ini kalau aku juara bisa dibelikan sepeda. 
“Bunda, Ayah berencana untuk melanjutkan sekolah pasca sarjana, s2” kata Ayah pada Bunda. “Kalau Ayah sudah yakin ya silahkan saja Bunda hanya mendoakan” sahut Bunda pelan. 
Yah…melayang lagi deh hadiah juara kelasku.
Dan benar saja, beberapa hari setelah pembagian rapor, aku benar-benar tak mendapatkan sepeda yang kuinginkan, ayah dan bunda faham perasaanku, dan mereka meminta maaf padaku, mereka bilang bahwa uang ayah digunakan untuk biaya kuliahnya.
“Ayah besok kita pergi ke Giant ya…” pintaku beberapa hari setelah pembagian rapor untuk menghapus rasa sedihku. “Insya Allah, tapi jangan beli macam-macam ya.. “ begitu ucapan ayahku yang kebetulan waktu itu sedang berada di depan komputer. Aku merayunya berkali-kali. Aku sudah tidak sabar untuk segera pergi ke sana, soalnya di sana banyak barang-barang yang bagus-bagus ada mainan, makanan dan minuman yang enak-enak dan peralatan sekolah yang bagus-bagus, terus saat kemarin ayah pergi ke kota dia membawakanku sebuah brosur mengenai harga-harga di mall, wuih… barang-barangnya mahal-mahal sekali, ada boneka, sepeda dan yang lainnya. Semoga besok ayah jadi mengajakku kesana.
“Aisyah cepat mandi, kalau tidak mandi ayah tidak ajak ke Giant nanti” terdengar suara ayahku yang berada di ruang keluarga. “Tapi yah, kan dingin mandi pagi-pagi nanti saja lebih siangan sedikit, khan hari ini hari minggu” kataku yang masih bermalas-malasan di atas ranjang. “Tidak ….pokoknya kalau tidak mandi tidak ayah ajak” ihh… takut juga mendengar ancaman ayah “Iya deh .. Aisyah segera mandi” aku segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, dan byurrr…. “Ihh.. dingin sekali pagi ini” begitu kataku dalam hati, tapi dari pada tidak diajak ayah. 
Setelah semuanya siap akhirnya aku dan ayah segera pergi ke Giant. Sebenarnya letaknya tidak begitu jauh tapi karena menggunakan mobil angkot jadinya jalannya menggunakan jalur yang berputar, “Tuh sudah kelihatan gedungnya“ ucap ayahku sambil menunjuk ke arah sebuah gedung yang cukup luas. Banyak sekali terlihat orang-orang yang berdatangan, ada yang pakai mobil motor dan berjalan kaki, orang-orang yang keluar dari bangunan itu kebanyak mendorong kereta belanja yang penuh dengan belanjaan, ada susu, kue-kue, peralatan rumah tangga dan sebagainya. “Ayah mereka kaya sekali yah, belanjaannya banyak sekali” ucapku pada ayah. “Aisyah… justru mereka yang belanjanya banyak bukan orang kaya” jawab ayah yang menggandeng tanganku menuju ke dalam toko.”Ayah pakai kereta dorongan belanja ya…”pintaku, “Tidak usah kita kan cuma belanja sedikit”sergah ayahku. Kami segera berkeliling di dalam toko Giant yang cukup besar itu, banyak sekali orang-orang yang berbelanja, aku melihat ada beberapa ibu-ibu yang memborong minyak goreng dan makanan ringan banyak sekali, ada juga yang membeli kereta dorongan bayi. “Ayah apa benar ucapan ayah tadi benar mereka bukan orang kaya” ucapku lagi, “Benar ….lihat saja mereka itu adalah orang-orang yang boros dan bukan orang yang kaya, orang kaya adalah orang yang hidupnya hemat, mereka tahu kapan akan membeli barang dan kapan tidak membelinya” kata ayahku panjang lebar, ”Maksudnya bagaimana sih, yah… Aisyah nggak paham” kataku sambil mengambil sebungkus snack “Maksudnya ya… orang kaya itu adalah orang yang tidak membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan, contohnya kalau kita tidak memerlukan tempat pensil yang baru karena masih ada yang lama di rumah, maka kita tidak perlu membeli yang baru” katanya. “oh…. Begitu”. 
Benar juga ucapan ayah mungkin mereka yang belanjaannya banyak bukan orang kaya, bisa-bisa kalau uang kita untuk belanja terus lama-lama bisa habis. Tapi kalau kita membeli hanya barang-barang yang diperlukan saja uang kita akan terkumpul dan dapat ditabung atau diinfakkan kepada orang miskin. 
Begitulah ayahku, beliau selalu menasihatiku segala hal, yang kelak tak akan kulupakan selamanya, aku janji, yah... Aku akan selalu mengingat semua pesan dari ayah.
Ayah memang sangat membentuk kepribadianku, setiap aku bertemu ayah, pasti satu nasihat dapat kupetik dari kata-katanya.
My father is my idol..., itu kata-katanya yang sangat berarti bagiku, meski begitu, bunda juga tetap idolaku...
I love my parents...
Bogor, 04 September 2007



Jujur, saya sangat terharu membacanya...
Sebuah tulisan yang dapat membuka mata saya, membuat saya sadar bahwa saya memiliki putri yang bukan hanya sekedar menghabiskan waktu untuk menulis kisah atau cerita perjalanan hidupnya...
Tulisan yang seolah membangunkan saya dari ketidaktahu-an saya tentang puteri saya sendiri...
Mungkin saya terlalu sibuk, terlalu lelah atau tidak punya waktu untuk membaca semua tulisan puteri saya...
Selama ini dia-pun tidak pernah meminta saya untuk membaca kisahnya...

Sungguh, melalui tulisannya ini saya ingin menyampaikan rasa sayang dan cinta saya padanya...
Saya tahu, saya terlalu sibuk hingga tidak pernah mengungkapkan rasa sayang saya padanya baik melalui ucapan maupun tulisan...
Namun dia, puteri kecilku yang sangat menyayangi ayah dan bundanya... telah menumpahkan rasa kasih sayangnya dengan perhatiannya pada kami dan tulisannya itu...

Puteriku,
Peri kecilku...
Ayah sangat menyayangimu... 




"Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway The Fairy and Me yang diselenggarakan oleh Nurmayanti Zain".